Kamis, 18 September 2014

Sejarah Masjid ADZ-DZIKRA




 LATAR BELAKANG
 
Seiring dengan bertambahnya waktu, dan semakin pesatnya perkembangan penduduk yang ada di lingkungan kami, yang secara automatis memerlukan sarana prasarana umum yang sangat dibutuhkan, atas dasar itu kami selaku warga dan segenap jajaran sepakat, tanah wakap seluas 186 m2 yang berlokasi di Blok Cisaladah RT 03 RW 07 Desa. Hegarnanah Kec. Jatinangor Kab Sumedang – Jawa Barat akan kami jadikan sebuah Masjid  Adz-Dzikra Seperti kita pahami bahwa sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW, masjid bukan hanya tempat ibadah tetapi merupakan pusat kegiatan berdimensi luas. Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya Hijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau singgah di suatu tempat yang dikenal dengan Quba. Disinilah Rasulullah membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Quba. Begitu juga ketika sampai di Madinah Rasulullah membangun Masjid Nabawi. Ini semua menunjukan bahwa masjid memiki kedudukan yang sangat penting bagi kaum muslimin.
Pada zaman Rasulullah SAW, masjid menjadi sarana untuk memperkokoh iman para sahabatnya. Di samping itu, masjid juga digunakan sebagai sarana peribadatan dan tempat mengkaji ajaran Islam. Allah berfirman :
Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, dan tidak takut(kepada siapa pun) selain kepada Allah maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(QS: At-Taubah: 8)

Masjid mengajarkan kaum Muslimin banyak hal. Dalam shalat berjamaah misalnya, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. roh Jama`i dan kebersamaan, ketaatan kepada pemimpin, tujuan hidup yang satu, kesamaan langkah dan gerak, dan masih banyak pelajaran lainya bisa kita ambil dari tempat yang suci ini.
Kebersihan juga pelajaran penting yang bisa diambil dari roh dan semangat Masjid. Berangkat ke masjid dalam keadaan berwudhu dan melepas alas kaki ketika memasuki masjid. Hal ini mengajarkan kepada setiap pribadi muslim untuk menjaga kebersihan, setiap mereka harus memulai pekerjaan sehari-harinya dengan niat yang bersih.
Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai sentral ilmu pengetahuan. Dari masjidlah Rasulullah membina masyarakat baru Madinah. Ahlu Suffah adalah mereka yang banyak mengambil manfaat dari ajaran Rasulullah. Disamping mereka tinggal di bagian belakang masjid mereka juga sangat tekun menghafal hadist-hadist Rasullah SAW. Abu Hurairah adalah salah seorang dari ratusan Ahli Shuffah yang banyak meriwayat hadis dibandingkan sahabat lainya. Tradisi menjadikan masjid sebagai pusat ilmu pengetahuan ini diteruskan oleh para Ulama Muslimin dalam mengembangkan Risalah Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Di era modern sekarang ini kita harus mampu memerankan dan memakmurkan Masjid. Memakmurkan Masjid mempunyai dua pengertian. Hissi dan maknawi. Hissi berarti membangun Masjid secara fisik, membersihkanya, melengkapi sarana wudhuk dan yang lainya. Sedangkan memakmurkan Masjid secara Maknawi adalah meramaikan Masjid dengan shalat berjama`ah, membaca Al-quran, i`tikaf, dan ibadah lainya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan Masjid sebagai pusat kegiatan dan pengembangan masyarakat.
Di samping itu kita harus bisa memposisikan masjid sebagai wadah pemersatu kaum muslimin. Menghidupkan kembali peranan masjid dengan segala macam aktivitas yang telah kita paparkan di atas yang telah terbukti membawa kaum muslim pada puncak peradaban besar. Wallahu a`lamu bissawab.